PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN MINYAK IKAN TERSULFIT PADA PROSES FAT LIQUORING TERHADAP MUTU FISIK FUR KELINCI (THE EFFECT OF SULPHITED FISH OIL PRESENT ON FATLIQUORING PROCESS TO PHYSICAL QUALITY OFRABBIT FUR)

Dian Nurdiansyah

Abstrak


Penelitian ini dilaksanakan di PD. Putra Setra, Garut dan Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik, Yogyakarta mulai tanggal 15 Maret sampai 19 April 2012. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat penggunaan minyak ikan tersulfit terbaik pada proses fat liquoring terhadap mutu fisik fur kelinci. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK).Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Sidik Ragam (Anava) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan.Sebanyak 20 lembar kulit awet garaman kelinci peranakan New Zealand White dikelompokkan menjadi 4 kelompok berdasarkan bobot kulit. Perlakuan yang diberikan adalah penggunaan minyak ikan tersulfit sebanyak 2% dari bobot kulit (P1), 4% minyak ikan tersulfit (P2), 6% minyak ikan tersulfit (P3), 8% minyak ikan tersulfit (P4), dan 10% minyak ikan tersulfit (P5) pada proses fat liquoring. Variabel yang diamati adalah kekuatan tarik, kemuluran, dan ketahanan sobek kulit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penggunaan minyak ikan tersulfit pada proses fat liquoring memberikan pengaruh terhadap mutu fisik fur kelinci. Penggunaan minyak ikan tersulfit sebanyak 6% menghasilkan mutu fisik fur kelinci terbaik: kekuatan tarik 168,95 kg/cm2, kemuluran 47,51%, dan ketahanan sobek 19,06 kg/cm.

Kata kunci: minyak ikan tersulfit, fat liquoring, fur


Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.