Pasien TBC yang Tidak Patuh Obat, Selain Risiko Resistensi Juga Memerlukan Banyak Biaya

Eko Aprilianto

Abstrak


Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan karena adanya infeksi akut atau kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Dari sudut pandang farmakoekonomi, kita diajak untuk melihat suatu permasalahan dengan membandingkan segi biaya yang dikeluarkan, resiko yang ada dan hasil (outcome) yang didapatkan dari suatu sistem kesehatan yang salah satu contohnya mengambil kebijakan dalam terapi agar berjalan efektif dan efisien. Dalam kasus TBC di Indonesia, pasien TBC yang tidak patuh konsumsi obat, selain berisiko resistensi obat juga terbukti memerlukan lebih banyak biaya yang harus dikeluarkan. Pemilihan terapi pengobatan metode Pasive Case Treatment (PCT) juga telah memperlihatkan pentingnya kepatuhan terapi obat yang dapat membuat terapi TBC yang lebih efisien dari sisi terapi dan biaya.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ardani, N.K., 2012, Active Case Treatment Lebih Cost Effective untuk Pengobatan TB Paru Tahap Awal, Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Indonesia, hal. 188,191

Syaripuddin, M., S. Si, Apt, MKM, dan Tim. Analisis Biaya dan Hasil Pengobatan Tuberkulosis Paru Kategori Satu Pasien Dewasa Di Rumah Sakit Pemerintah. Kementrian Kesehatan. Hal. 35, 36.

PDPI, 2002, Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia, Indonesia, hal.1-2.


Article metrics

Abstract views : 0 | views : 0

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.




Copyright © 2016 Majalah Farmasetika.

free
hit counter
 
View My Stats
Universitas Padjadjaran. Back to Top