Gambaran Perilaku Pencarian Pengobatan Pasien Tuberkulosis di Kota Bandung

Dodi Hidayat, Elsa Pudji Setiawati, Arto Yuwono Soeroto

Abstrak


Salah satu fokus utama strategi Directly Observed Treatment Short-Course (DOTS) yaitu penemuan kasus Tuberkulosis (TB). Perilaku pencarian pengobatan masyarakat merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam penjaringan kasus TB, karena menjadi salah satu penentu perawatan yang kurang tepat dan keterlambatan diagnosis, sehingga penting diketahui agar dapat dilakukan intervensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pencarian pengobatan pasien TB, faktor-faktor dalam pencarian pengobatan, serta melihat keterlambatan dalam pencarian pengobatan, diagnosis dan pengobatan pasien TB di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan studi desain observational deskriptif rancangan potong lintang. Menggunakan data primer diambil dari pasien Tuberkulosis yang berobat di Puskesmas Kota Bandung tahun 2016 sebanyak 96 orang. Data diambil menggunakan teknik wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang sudah divalidasi. Perilaku pencarian pengobatan responden bervariasi. Kebanyakan responden memilih berobat ke tenaga kesehatan, seperti puskesmas (62,5%), dokter praktik (20,8%). Faktor yang mempengaruhi perilaku pencarian pengobatan yaitu faktor karakteristik masyarakat, seperti keadaan demografi-sosial, kondisi keluarga, sosial-budaya, pengetahuan, dan stigma. Lama waktu yang dibutuhkan responden untuk mencari pengobatan rata-rata sekitar 24 hari, karena tidak tahu keparahan gejala yang dialami (90,6%). Sebagian besar responden lebih memilih pengobatan ke Puskesmas. Faktor karakteristik masyarakat berperan pada perilaku pencarian pengobatan. Keterlambatan pengobatan terjadi pada masyarakat karena ketidaktahuan tentang TB.

Kata Kunci: Pencarian pengobatan, perilaku, Tuberkulosis

Teks Lengkap:

PDF


DOI: https://doi.org/10.24198/jsk.v3i2.15005

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.