Respon pertumbuhan dan hasil panen rebung periode pertama lima kultivar asparagus pada berbagai konsentrasi larutan garam

Zalora Sanchenia, Tino Mutiarawati Onggo, Wawan Sutari

Abstrak


Rebung asparagus (Asparagus officionalis L.) termasuk salah satu sayuran yang bernilai ekonomi tinggi di dunia juga di Indonesia. Kultivar asparagus yang ditanam di Indonesia umumnya merupakan kultivar introduksi dari daerah subtropis, sehingga pertumbuhan dan produksinya di Indonesia kurang optimal. Indonesia memiliki suhu dan kelembaban yang cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan serangan berbagai penyakit pada tanaman asparagus. Aplikasi larutan garam pada media tanam mampu mengendalikan penyakit akar sehingga asparagus akan tumbuh dengan baik. Percobaan bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi larutan garam dan kultivar asparagus yang cocok untuk dataran medium Jatinangor supaya diperoleh pertumbuhan dan hasil rebung asparagus yang baik. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Terkendali Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor Kabupaten Sumedang pada ketinggian tempat sekitar 730 mdpl, sejak bulan Januari sampai Juli 2016. Penanaman dilakukan di bawah naungan plastik transparan. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) atau Split-Plot Design dengan dua ulangan. Petak utama adalah kultivar asparagus yang terdiri dari lima taraf yaitu kultivar Atlas F1, De Paoli F1, Jing Green F1, San Knight F1 dan Jaleo. Anak petak adalah konsentrasi larutan garam yang terdiri dari tiga taraf yaitu 1 g/L, 2 g/L dan 3 g/L. Hasil percobaan menunjukkan tidak terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara lima kultivar asparagus dan konsentrasi larutan garam terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas rebung. Pertumbuhan dan kualitas rebung asparagus dari lima kultivar yang di uji tidak berbeda nyata. Kultivar Atlas dan Jaleo mampu  menghasilkan persentase jumlah dan bobot rebung layak pasar lebih tinggi dibandingkan kultivar De Paoli. Perbedaan konsentrasi larutan garam tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan, hasil panen dan kualitas rebung.

 

Kata kunci: tinggi tanaman, jumlah batang, bobot brangkasan, bobot rebung, jumlah rebung

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ashari, S. 1995. Hortikultura: Aspek Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Hal 196.

Beltagi, M.S., M.A. Ismail and F.H. Mohamed. 2006. Induced salt tolerance in common bean (Phaseolus vulgaris L.) by gamma irradiation. J. Biology Science (6): 1143–1148.

Cantaluppi, C. J. 2012. Replicated Asparagus Cultivar Evaluation 2007-2012. Available at vegnet.osu.edu/sites/vegnet/files/imce/Asparagus%20trial.pdf (diakses pada 19 Desember 2016).

Drost, D. T. 1997. Asparagus. In The Physiology of Vegetable Crops. Wien, H.C. (Editor). CAB International. New York. p. 621-642.

Gaspersz, V. 2006. Teknik Analisis dalam Penelitian dan percobaan. Jilid 1. Bandung: Tarsito.

Gonzalez, M. 2008. Application of salt during seven years to an asparagus plantation affected by Fusarium. ISHS J. Acta Horticulturae 950: 32.

Grattan, S.R and C.M. Grieves. 1999. Salinity-mineral nutrient relations in horticultural crops. J. Scientia Hort (78): 127-57.

Kruistum, G., J. T. Van, J. T. Poll, J. Meijer and M. Lievens. 2004. Effect of NaCl on asparagus quality, production and mineral leaching. Acta Horticulturae 776: 10.

Kusumiyati, T. M. Onggo dan F. A. Habibah. 2017. Pengaruh Konsentrasi Larutan Garam NaCl Terhadap Pertumbuhan dan Kualitas Bibit Lima Kultivar Asparagus. J. Hort. Vol. 27: 79-86.

Mathur, N., J. Singh, S. Bohra, A. Bohra and A. Vyas. 2006. Biomass production, productivity and physiological changes in moth bean genotypes at different salinity levels. J. Plant Physiol. (2) : 210–213.

Mazher, A. M. A., E. M. F. El-Quesni, M. M. Farahat. 2007. Responses of ornamental and woody trees to salinity. J. Agriculture Science (3): 386–395.

Munns, R. 2002. Comparative physiology of salt and water stress. J. Plant Cell Environ 25: 239–250.

Onggo, T. M. 2008. Kualitas bibit dan potensi hasil sembilan kultivar introduksi asparagus di Lembang–Jawa Barat. Jurnal Agrikultura Vol. 19 (1) : 37-41.

_______. 2013. Budidaya Tanaman Asparagus Di Daerah Tropis. Bandung: Unpad Press. Hal 19-20.

Poll, J.T.K. and P.O. Bleeker. 1998. Effect of NaCl on weed populations in asparagus grown on a sandy soil. Netherlands: Applied Plant Research.

_______. 2002. Effect of NaCl on weed populations in asparagus grown on a sandy soil. Asparagus Research News Letter Vol.18 : 19-21.

Pranasari, R. A., N. Tutik dan K. I. Purwani. 2012. Persaingan tanaman jagung (Zea mays) dan rumput teki (Cyperus rotundus) pada pengaruh cekaman garam (NaCl). J. Sains dan Seni ITS Vol. 1 (1) : 54-57.

Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi. 1999. Sayuran Dunia Jilid ke-3. (Terjemahan). Bandung: Institut Teknologi Bandung Press. Hal 320.

Sudjatmiko, S. 1994. Keragaan Asparagus (Asparagus officinalis L.) pada suhu tropis ditinjau dari proses pertukaran carbondioksida. Prosiding Simposium : 185-189.




DOI: https://doi.org/10.24198/kltv.v16i3.14440

Article metrics

Abstract views : 0 | views : 0

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Jurnal Kultivasi, All Right © Reserved 2018