Partisipasi Petani dalam Pemuliaan Tanaman dan Konservasi Plasma Nutfah Secara ‘On Farm’

Nani Zuraida, , Sumarno

Abstract


Upaya dan naluri petani secara turun temurun untuk memilih tanaman yang

memiliki karakter unggul dari populasi alam telah menghasilkan kultivar-kultivar lokal yang memiliki karakter khusus dan beradaptasi dengan baik pada agroekologi setempat. Kultivar unggul lokal banyak digantikan dengan kultivar baru karena adanya anjuran penanaman kultivar unggul nasional, sejalan dengan berkembangnya revolusi hijau. Konsep usahatani modern yang mempersyaratkan keseragaman kultivar dalam hamparan luas sebenarnya lebih sesuai bagi usahatani berskala luas yang dikelola secara mekanisasi. Pertanian dengan skala usaha sempit seperti di Indonesia, memungkinkan bagi masingmasing petani untuk menanam kultivar yang berbeda, bahkan setiap petani dapat menanam dua atau lebih kultivar. Praktek penanaman multikultivar dalam satu hamparan berfungsi untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman guna meningkatkan daya tahan terhadap serangan hama penyakit, dan meningkatkan daya sangga genetik terhadap perubahan lingkungan, serta berfungsi untuk pelestarian kultivar lokal. Pelestarian kultivar-kultivar lokal akan lebih efektif apabila petani dilibatkan dalam berbagai model kegiatan, disertai peningkatan kesadaran dan pengetahuan petani akan pentingnya pelestarian sumberdaya genetik bagi keperluan usahatani generasi yang akan datang. Hak-hak petani terhadap kultivar lokal yang mereka lestarikan harus dihormati, sesuai dengan prinsip ‘Prior Informed Consent’ (PIC), yang telah ditetapkan dalam Convention on Bio Diversity (CBD). Pelestarian kultivar-kultivar lokal dan plasma nutfah harus menjadi kepentingan petani di seluruh wilayah Indonesia, bukan semata-mata menjadi tugas pemerintah. Konservasi plasma nutfah secara ‘onfarm’ dinilai memiliki peran yang nyata, dalam upaya pelestarian variabilitas genetic spesies tanaman yang dibudidayakan. Agar dapat diperoleh kultivar unggul yang sesuai dengan keinginan petani dan adaptif terhadap lingkungan spesifik, perlu dilakukan program pemuliaan partisipatif dengan melibatkan petani. Pelepasan kultivar disarankan bersifat regional berdasarkan kesesuain agroekologi setempat. Pemuliaan tanaman partisipatif telah banyak dilakukan pada Lembaga Penelitian Pertanian Internasional, dan sebaiknya juga diadopsi di Indonesia.


Article metrics

Abstract views : 0

Refbacks

  • There are currently no refbacks.





Zuriat @ PERIPI - Universitas Padjadjaran