UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL DAUN MANGKOKAN (Polyscias Scutellaria (Burm.F.) FOSBERG) TERHADAP Trichophyton Mentagrophytes SECARA IN VITRO

Rury Trisa Utami, Sri Hainil, Ayu Amelia, Desy Maniarti Gusmali, Diani Mega Sari

Abstrak


Tinea capitis merupakan infeksi jamur dermatofit pada kulit kepala yang masih sering ditemukan, terutama pada anak-anak. Penggunaan antijamur sintetis secara terus-menerus berpotensi menimbulkan resistensi dan efek samping, sehingga diperlukan alternatif antijamur yang berasal dari bahan alam. Daun mangkokan (Polyscias scutellaria (Burm.f.) Fosberg) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenol yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak etanol daun mangkokan terhadap jamur penyebab Tinea capitis pada berbagai konsentrasi menggunakan metode difusi cakram.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group design. Perlakuan terdiri atas ekstrak etanol daun mangkokan konsentrasi 30%, 60%, dan 90%, kontrol positif ketokonazol 30 µg/disk, serta kontrol negatif DMSO 10%. Aktivitas antijamur dinilai berdasarkan diameter zona hambat yang terbentuk setelah inkubasi. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf signifikansi 95%. Rata-rata diameter zona hambat ekstrak etanol daun mangkokan pada konsentrasi 30%, 60%, dan 90% berturut-turut sebesar 2,80 ± 0,53 mm, 4,92 ± 0,81 mm, dan 7,63 ± 0,32 mm. Kontrol positif ketokonazol menghasilkan diameter zona hambat sebesar 16,18 ± 1,22 mm, sedangkan kontrol negatif DMSO tidak menunjukkan zona hambat. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan (p < 0,05). Uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mangkokan konsentrasi 90% memberikan aktivitas antijamur tertinggi di antara kelompok ekstrak, namun masih lebih rendah dibandingkan ketokonazol. Ekstrak etanol daun mangkokan memiliki aktivitas antijamur terhadap jamur penyebab Tinea capitis, yang ditunjukkan dengan meningkatnya diameter zona hambat seiring peningkatan konsentrasi ekstrak. Konsentrasi 90% merupakan konsentrasi yang memberikan aktivitas penghambatan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun mangkokan berpotensi dikembangkan sebagai alternatif antijamur berbasis bahan alam, namun diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi senyawa aktif, menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Fungicidal Concentration (MFC), serta mengevaluasi efektivitasnya melalui uji in vivo.

Kata Kunci


daun mangkokan; Polyscias scutellaria; aktivitas antijamur; difusi cakram; ekstrak etanol

Teks Lengkap:

PDF


DOI: https://doi.org/10.24198/biotika.v24i1.71656

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


 Jurnal ini terindeks oleh: