Dinamika Kerentanan dan Strategi Penghidupan Masyarakat Pesisir Tambak Lorok dalam Perspektif Sustainable Livelihoods Framework
Abstract
ABSTRAK
Wilayah pesisir merupakan ruang hidup yang rentan terhadap tekanan ekologis dan sosial ekonomi, terutama bagi rumah tangga nelayan skala kecil yang bergantung pada sumber daya alam. Di Indonesia, perubahan iklim, degradasi lingkungan pesisir, dan transformasi sektor perikanan meningkatkan ketidakpastian penghidupan. Namun, studi sebelumnya cenderung memisahkan aspek ekonomi dan lingkungan serta belum menempatkan modal sosial sebagai strategi adaptif dalam kerentanan yang kompleks. Selain itu, penggunaan Sustainable Livelihoods Framework sering belum menekankan vulnerability context pada tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kerentanan penghidupan rumah tangga nelayan di Tambak Lorok, Semarang, serta peran modal sosial dalam meresponsnya. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus eksplanatori digunakan melalui wawancara, observasi, dan data sekunder, dianalisis dengan SLF pada aspek shocks, trends, dan seasonality. Hasil menunjukkan kerentanan multidimensi akibat tekanan lingkungan, perubahan struktural, dan fluktuasi musiman. Modal sosial berfungsi sebagai adaptasi defensif, tetapi belum mampu mengatasi kerentanan struktural jangka panjang secara efektif dan berkelanjutan bagi nelayan lokal.
Kata kunci: Kerentanan Penghidupan, Modal Sosial, Nelayan Pesisir, Tambak Lorok
ABSTRACT
Coastal areas are living spaces that are vulnerable to ecological and socio-economic pressures, particularly for small-scale fishing households that depend on natural resources. In Indonesia, climate change, coastal environmental degradation, and transformations in the fisheries sector are increasing livelihood uncertainty. However, previous studies have tended to separate economic and environmental aspects and have not positioned social capital as an adaptive strategy within this complex vulnerability. Furthermore, the application of the Sustainable Livelihoods Framework has often failed to emphasise the vulnerability context at the local level. This study aims to analyse the livelihood vulnerability of fishing households in Tambak Lorok, Semarang, and the role of social capital in responding to it. A descriptive qualitative approach with an explanatory case study was employed, utilising interviews, observations, and secondary data, analysed using the SLF across the dimensions of shocks, trends, and seasonality. The results indicate multidimensional vulnerability resulting from environmental pressures, structural changes, and seasonal fluctuations. Social capital functions as a defensive adaptation, but has not yet been able to effectively and sustainably address long-term structural vulnerabilities for local fishermen.
Keywords: Vulnerability Context, Social Capital, Coastal Fishermen, Tambak Lorok.
Keywords
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)References
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang. (2023).
Laporan kejadian dan dampak banjir rob Kota Semarang tahun 2023. Pemerintah Kota Semarang.
Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik perikanan tangkap Indonesia 2023. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik Kota Semarang. (2025). Statistik perikanan tangkap Kota Semarang 2024–2025. Badan Pusat Statistik.
Chambers, R., & Conway, G. R. (1992). Sustainable rural livelihoods: Practical concepts for the 21st century (IDS Discussion Paper No. 296).
Institute of Development Studies.
Department for International Development. (1999). Sustainable livelihoods guidance sheets. DFID.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang. (2025). Data produksi perikanan laut dan armada penangkapan ikan TPI Tambak Lorok. Pemerintah Kota Semarang.
Fauzi, A., & Anna, Z. (2022). Ekonomi sumber daya alam dan lingkungan: Teori dan aplikasi. PT Gramedia Pustaka Utama.
Herdiansyah, H. (2020). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial: Perspektif konvensional dan kontemporer. Salemba Humanika.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2021). Laporan kinerja sektor kelautan dan perikanan tahun 2021. Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Kusnadi. (2020). Kemiskinan nelayan: Dinamika struktur, budaya, dan ekonomi politik. LKiS.
Kusumawati, D., & Suyanto, S. (2019). Kerentanan penghidupan nelayan skala kecil terhadap perubahan lingkungan pesisir. Jurnal Sosial
Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 14(2), 157–169.
Lestari, R., & Dharmawan, A. H. (2023). Diversifikasi penghidupan dan kerentanan musiman rumah tangga nelayan skala kecil di wilayah pesisir. Jurnal Sosiologi Pedesaan, 11(1), 89–104.
Marfai, M. A., Hizbaron, D. R., & Ward, P. (2020). Dampak perubahan iklim dan kenaikan muka air laut terhadap wilayah pesisir Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Nugroho, S., Pratama, R. A., & Handayani, W. (2021). Dinamika kerentanan mata pencaharian nelayan pesisir perkotaan dalam konteks perubahan lingkungan jangka panjang. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 17(1), 45–58.
Pratama, R. A., Nugroho, S., & Handayani, W. (2021). Kerentanan penghidupan masyarakat nelayan di kawasan pesisir perkotaan: Studi kasus Tambak Lorok, Kota Semarang. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 17(2), 123–136.
Rahman, A., & Nugroho, S. (2021). Strategi adaptasi rumah tangga nelayan terhadap banjir rob di kawasan pesisir perkotaan. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 17(3), 289–302.
Rahmawati, D., & Pramono, R. (2020). Pendekatan Sustainable Livelihoods Framework dalam analisis penghidupan rumah tangga nelayan. Jurnal Sosiologi Pedesaan, 8(1), 45–58.
Sari, D. P., & Dharmawan, A. H. (2022). Kerentanan struktural dan strategi penghidupan rumah tangga nelayan dalam tekanan perubahan lingkungan pesisir. Jurnal Sosiologi Pedesaan, 10(2), 167–182.
Satria, A. (2019). Sosiologi masyarakat pesisir. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Scoones, I. (1998). Sustainable rural livelihoods: A framework for analysis (IDS Working Paper No. 72). Institute of Development Studies.
Wibowo, A., Setiawan, B., & Pranowo, W. S. (2021). Pola musim penangkapan ikan dan implikasinya terhadap pendapatan nelayan skala kecil. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 16(2), 201–214.
Refbacks
- There are currently no refbacks.












